Kamis, 29 Juli 2021

PUISI_REKAHAN CAHAYA BAKDA SUBUH

Rekahan Cahaya Bakda Subuh

By Emi Rusnawati

Kau hadir menggelitik jiwa
Mencubit lembut membangunkan
Hati sunyi menepi mengadu

Tersayat jiwa jauh dari Mu
Membuat jiwa tak lagi membungkam

Panggilan-Mu menyayat jiwa fakir 
Jiwa yang mencoba menghadiriMu
Menghadiri undangan istimewa 
Membukakan jalan mencabut luka
Hilangkan sayatan sayatan yang dirasa

Hadirku menyambut kelembutan Mu
Mempertemukan ku dengan jiwa yang lain 
Jiwa yang diliputi sifatMu
Halus budi menjunjung berilmu 
Dalam setiap kalimat AsmaMu di sebut

Tempat itu ....
Adalah ruang Maya yang menjelma nyata
Antar ada dan tiada
Rekahan cahaya bakda subuh 
Ruang GILA penuh makna

Disanalah jiwa ini terikat
Hingga tak mampu melepas 
Bersembunyi bahkan menghilang
Biarlah jiwa ini tetap hadir
Membawa rindu penuh asa


Yogyakarta, 29 Juli 2021
di tulis pukul 0630' WIB
Stay at home


Jumat, 02 Juli 2021

PUISI SEMUA KAN KEMBALI


SEMUA KAN KEMBALI

Ketika jasad tak lagi bernyawa
Apa yang kau bisa
Tidur yang tak bangun kembali
Dibalut kain kafan yang akan menemani
Dalam kubur diatasnya sebuah batu nisan
Batu yang dibuat sebagai penanda
Akhir kembalinya tak semua sama
Yang sama hanyalah ruh yang terlepas dari jasadnya
Kembali menghadap yang empunya
Robby...
Waktu itu menjadi rahasiamu
Akupun tak pernah tahu
Kapan Kau cukupkan masaku. ...
Robby....
Aku bukanlah yang tebaik diantara makhluk Mu
Tapi aku hanyalah sesosok kebidupan
Yang penuh dengan harap ridlo Mu
Cermin besar yang terpajang
Setiap hari mengingatkanku...
Untuk apa sisa kehidupan ini...
Kuatkan aku Ya.... Robby...
Ampuni aku atas kekurangan dan kesalahan ini...
Biar kelak ku kembali
Ada senyum yang menyelimutiku
Ada jiwa yang terus berdo'a
Walau tidak harus di atas batu nisan sebagai penanda.
Ada jiwa-jiwa yang terus berkarya
Sambil bertasbih mengangungkan- Mu Ya Robb....
Aku yang hina
Tapi ingin mulia
Berikan akhirku dengan Hisnil khotimah.

Emi Rusnawati
#Yoyakarta, 15 April 2020#
Stay at home pukul 01.26' WIB#

Kamis, 01 Juli 2021

PUISI_SENANDUNG RINDU BUAT SANG AYAH





SENANDUNG RINDU BUAT SANG AYAH

Raga dan jiwa tak lagi ada

Namun nasehatnya terus terngiang ditelinga ...

Kini ia tlah tiada...

Pergi untuk selamanya....

Menemui Robbnya....

 

Robbi

tak mampu mata ini menatapnya terlalu lama...

Tak mampu raga ini meninggalkannya

terbaring menahan rasa sakit yang di deritanya

 

Saat itu di hari kelahiran mu wahai ayahanda

Kau nampak sumringah ketika mendapatkan kado dari anak dan cucumu

Kau nikmati hidangan yang kau inginkan saat itu dengan penuh rasa syukur

Walau saat itu sejatinya engkau menahan rasa sakit yg kau derita

 

Ikhlas ya nak ...

Iklas anakku ...

Sepertinya waktuku sudah dekat… ayahmu sudah lelah ...

Rasanya sudah ingin beristirahat

Terus kan perjuangan dakwahmu

Jangan pernah putus asa ...

Jadilah guru terbaik buat anak  muridmu

Ikhlaskan  ayahmu

Kalimat itu selalu terngiang dalam benak qolbuku

 

Hari demi hari aku memilih berada didekatmu ...

Tak lagi ku hiraukan tugas mengajar ku

Aku hanya ingin berada di dekatnya

Sampai pada akhirnya saatpun tiba ...

Ajal menjemputmu ....

 

Laa ilaaha illallah ...

Laa ilaaha illallah ...

Keringat dingin mengucur lekat di tubuhmu...

Tak lagi mampu berkata banyak...

Hanya pesan untuk menjaga bunda

 

Laa ilaaha illallah...

Laa ilaaha illallah ...

Itulah kalimat terakhirmu menuju Robbmu ....

 

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un

Engkau lahir untuk kembali

Semua kenangan bersamamu terlalu indah wahai ayahandaku

Do'a tulus buatmu ….

semoga Robbmu memberikan tempat terbaik

buat pejuang sepertimu ….

 

 

Yogyakarta, 1 Juli 2021

Emi Rusnawati