Sabtu, 26 Juni 2021
Jumat, 18 Juni 2021
Pantun teduh
Teruntuk sahabat yang berkenan membersamai.
Pegang pena coretkan tinta
Di atas kertas putih bermakna
Genggaman tak selalu sirna
Membekas sempurna penuh warna
Warna merah lambang keberanian
Namun hijau warna kedamaian
Sirna sudah segala kegalauan
Bersama ustdzah menjadi kawan
Hijau gunung nampak di depan
Warna Membiru dari kejauhan
Hujan badai tak lagi jadi halangan
Walau terasa dipenuhi rintangan
Bukak pesan di jaringan sosial
Pesan singkatnya penuh perhatian
Tak ada kata gagal dalam ujian
maknanya dalam di setiap perjalanan
Dinding langit menjulang tinggi
Bawahnya lautan mengelilingi
Datangnya izin menata hati
Balasannya menentramkan dasarnya qur'ani
Jogjakarta, 19 Juni 2021
Stay at home
Jaga dan tingkatkan Iman, imun dan beramal
KESERUAN MENJELAJAHI KELOK 44 RANAH MINANG
KESERUAN MENJELAJAHI KELOK 44 RANAH MINANG
SUMATERA BARAT
Mengunjungi tempat-tempat wisata di tanah air, tidak akan pernah ada habis-habisnya. Siapapun yang hobinya suka melancong dan berpetualang, pasti akan selalu berusaha untuk memenuhi keinginannya, mengunjungi tempat-tempat yang diinginkan.
Seperti pengalaman perjalananku kali ini yang sangat luar biasa. Ketika aku melakukan perjalanan di Sumatera Barat bersama sahabat karibku. Dia adalah seorang Kepala Sekolah di SDN 44 Sungai Lareh Koto Tangah Kota Padang, Santi namanya. Tidak pernah terbayangkan olehku selama dua belas hari melancong di Sumatera Barat diantara kesibukan melaksanakan tugas. Hmm…kira-kira seperti apa ya pengalamannya? Untuk kisahku ini, aku jadi teringat akan sebuah pepatah “sekali dayung dua tiga pulau terlampaui” begitulah yang kualami.
Pagi itu seperti biasa, sesudah subuh kami langsung bersiap-siap untuk melakukan aktifitas. Kali ini sahabatku mengajak jalan-jalan, tetapi dia tidak menyebutkan hendak kemana kami berpergian. Yang penting kami keluar rumah. Ah, mungkin saja dia bermaksud memberi kejutan untuk mengunjungi beberapa tempat indah di Sumatera Barat, gumamku dalam hati. Tentunya tempat-tempat yang masih bisa kami jangkau dengan kondisi dan waktu yang ada. Malala begitulah istilah dalam bahasa Minang, yang artinya adalah pergi jalan-jalan, menikmati indahnya alam Sumatera Barat.
Kelok 44 atau sering disebut sebagai “kelok ampek puluah ampek” menjadi tujuan perjalanan kami kali ini. Berdua menyusuri jalanan berliku, adalah sebuah pengalaman yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Perjalanan bersama seorang Kepala Sekolah dan juga seorang ibu yang masih sangat muda. Menjadi driver cantikku selama perjalanan di Ranah Minang.
Di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba mataku begitu terpesona disuguhi dengan hamparan luas di sebelah kanan jalan yang kami lalui, spontan saya bertanya “laut atau danaukah itu?”, “danau Maninjau Bun” begitu sahabatku menjawab. Ya Allah mataku sontak lebih terbelalak lagi, aku tidak menyangka bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri danau Maninjau yang terkenal itu. Tetapi karena agenda kami tidak ke danau itu, maka kami hanya menikmati keindahannya sambil melanjutkan perjalanan menuju ke kelok ampek puluah ampek, seperti tujuan kami di awal perjalanan.
Sambil mengemudi sahabatku menunjukkan jari telunjuknya sambil mengakatakan “tujuan kita ada di ujung bukit sana Bun!”. Bukit yang menjulang tinggi sudah terlihat di depan mata kami. Ya Rabb, lindungilah perjalanan kami ini, sesungguhnya tidak ada kekuatan kecuali kekuatan dari-Mu Sang Penguasa alam ini. Dan Engkaulah sebaik-baik Pelindung bagi kami.
Sahabatku terus memacu kendaraannya dengan begitu piawainya, menuju bukit tersebut. Karena pemandangan di kanan kiri kami terasa sangat indah rasanya mubazir jika hanya dilewatkan begitu saja. Maka kami sesekali berhenti dan turun dari mobil untuk berfoto sekedar mengabadikan kenangan perjalanan kami.
Kelok satu kami lampaui, kelok dua, kelok tiga, kelok empat teruuus kami lalui jalanan berliku dan menanjak itu, bahkan tak jarang di kanan kirinya jurang nanterjal. Sebisa mungkin aku berusaha mengabadikannya dengan kamera handphone yang kubawa. Masyaa Allah di depan mataku dari sisi jendela kiri tempat dudukku, lagi-lagi Allah memberiku anugerah dengan pemandangan yang sungguh tak mampu aku ungkapkan dengan kata-kata. Sehingga tidak sedikitpun mataku terpejam melewatkan semua keindahan yang aku saksikan di bumi Allah ini, sungguh kelok 44 membuatku terpesona tiada henti.
Rimbunan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Hamparan danau Maninjau dengan airnya yang biru tenang. Begitu pula dengan cantiknya gulungan awan menghias di atasnya membuatku tidak merasakan beratnya rintangan jalan yang ku tempuh. Ya Allah, bisa melintas di setiap kelokan di kelok 44 saja sudah sangat luar biasa!. Apalagi ditambah dengan suguhan indahnya danau Maninjau. Danau yang cukup terkenal yang selama ini hanya aku tahu beritanya dari surat kabar dan media televisi.
Saat tiba di kelok ke-14, kami berhenti di rest area untuk menunaikan ibadah shalat dzuhur dan sekedar minum teh panas sambil memanjakan mata dengan menikmati danau Maninjau dari atas bukit. Jepret sana jepret sini, tidak ada yang terlewat olehku untuk kuabadikan melalui kamera handphone kesayanganku. Bahkan kadang aku rekam juga dalam bentuk video. Begitu aku cermati, hasil jepretan dari kameraku hampir saja tidak percaya, ternyata danau itu bak cermin yang memantulkan gambar yang tertangkap di depannya. “Lalu nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang hendak engkau dustakan”. Aku teringat akan firman Allah SWT dalam sebuah surat di dalam Al Qur’an.
Karena mengingat waktu, kami segera melanjutkan perjalanan menuju kelok yang terakhir dan juga yang tertinggi yaitu kelok 44. Disana terdapat lokasi wisata Puncak Lawang. Pemandangan seperti negeri di atas awan. Tak lama kami disana, hanya singgah sebentar saja. Namun yang terpenting adalah, kami telah berhasil menaklukkan setiap kelokan-kelokan jalan yang sangat tajam. Yang benar-benar sesuai dengan namanya, kelokan yang berjumlah empat puluh empat. Seiring berjalannya waktu akhirnya kami memutuskan untuk segera turun, pulang kembali ke rumah di perbatasan antara Kota Padang dan Padang Pariaman.
Disaat turun dan sampai kembali ke kelok pertama, tanpa sengaja aku membaca sebuah papan nama yang menunjuk ke arah kiri jalan menuju rumah budaya Buya Hamka. Melihat ini, kami kembali tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengunjunginya. Hingga pada akhirnya, setelah kami melewati jalan yang tak kalah rumit rintangan jalannya. Melewati kelokan yang curam dan jalan yang sempit sampai juga kami di rumah budaya tersebut. Yang lokasinya memang berada di seputaran danau Maninjau. Alhamdulillah, tiada henti aku mengucap rasa syukur.
Di rumah kelahiran ulama besar asal Minangkabau yang bernama lengkap Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau lebih dikenal dengan nama "Buya Hamka" . merupakan sosok seorang ulama sekaligus sastrawan, sejarawan dan juga tokoh politikus yang sangat terkenal tidak hanya di Indonesia tetapi juga dunia. Mengingatkanku akan dua karya beliau yang sangat terkenal yaitu buku “Tenggelamnya Kapal van der Wijck” dan “Di Bawah Lindungan Kabah”
Panjangnya perjalanan yang kami tempuh memang sangat melelahkan. Namun rasa lelah hilang terbayar dengan keindahan alam Minangkabau yang sangat indah dan juga penuh sejarah, tempat lahirnya tokoh-tokoh bangsa. Hal ini ditunjukkan saat kami tiba di rumah kelahiran Buya Hamka. Banyak hikmah yang bisa aku ambil dari sepanjang perjalananku dalam satu hari itu. Mulai dari Pariaman melewati Lubuk Basuang (Ibu kota Kabupaten Agam), hingga sampai di danau Maninjau yang menjadi pemandangan sepanjang perjalanan ke kelok 44 dan rumah kelahiran Buya Hamka.
Rumah bersejarah yang berada di tepian danau Maninjau tepatnya di kampung Muaro Pauh, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sungguh ini diluar rencana perjalanan yang aku bayangkan sebelumnya. Masyaa Allah, aku begitu bahagia Allah izinkan bisa singgah di tanah kelahiran Buya Hamka. Beliaulah salah satu motivator dalam hidupku. Melalui perjuangan dan ketegarannya, serta karya-karya sastranya yang dipenuhi dengan pesan-pesan luhur. Sangat pantas dijadikan pembelajaran dan contoh untuk kita semua sebagai generasi bangsa.
Tidak hanya itu, singgah dan berada dirumah kelahiran Buya Hamka juga memberi banyak inspirasi. Karena disini juga terdapat rumah baca, yang sengaja dibuat untuk perpustakaan dan tempat mengabadikan karya-karya beliau. Quote-quote beliau sengaja di tulis ulang dan dipajang di setiap sudut dinding ruangan.
Inilah salah satu alasanku, dengan penuh semangat terbang dari pulau Jawa rela menempuh perjalanan jauh ke Sumatera Barat. Sampai aku bergumam di dalam hati, bahwa suatu saat aku harus kembali ke Provinsi yang terkenal dengan masakan rendangnya ini. Makanan yang diakui sebagai makanan terlezat di dunia. Terbukti selama disini aku tidak hanya puas akan keindahan alamnya tetapi juga puas dengan wisata kulinernya. Sumatera Barat juga terkenal dengan kekayaan dan kelezatan masakannya yang kaya akan bumbu dan rempah-rempah hasil bumi Indonesia. Bagaimanapun caranya, kelak aku harus kembali lagi. Meski sebelumnya aku sudah pernah dua kali kesini, datang ke ranah Minang. Negeri asal lahirnya legenda rakyat si Malin Kundang.
Kenangan Perjalanan di akhir Tahun 2019
diedit dan ditulis ulang di
Yogyakarta, Januari 2021
Penulis : Emi Rusnawati, S.Pd.I., C.PS., C.MMI., C.PR
Asal : Yogyakarta Domisili Kota Yogyakarta

