Rabu, 01 Desember 2021

PUISI RINDU SANG KEKASIH


Rindu Sang Kekasih

Karya : Emi Rusnawati


Bibir ini terus bergetar
Seolah tak sanggup untuk berucap
Ada rasa yang menyelimuti kata
Betapa aku merindukanmu
Merindukan sang kekasih

Perlahan lembaran demi lembaran terbuka 
Kubaca sebuah pesan singkat
Membuatku merunduk malu
Mencari jati diri yang sempat terpuruk
Menyimpan kesan jawab tak tertata

Bibir ini kembali bergetar 
Lafadzkan istighfar pertanda pertaubatan
Sedih dengan laku yang ada
Seakan tak percaya adanya pertanda

Kini semua kembali tertata
Hati kembali merindu
rindu sang kekasih hati
Baginda Rasulullah Shalallahu 'alaihi Wasallam
Sang pencerah Uswah Hasanah

Sudut Kota Jogjakarta
1 Desember 2021
22.08' wib

Minggu, 21 November 2021

JANGAN TAKUT BERMIMPI

Jangan takut bermimpi Malaikat ada dipihak kita ....
Jangan takut bermimpi Surga ada didepan mata kita
Jangan takut bermimpi kelak kita kan bersama di surga Nya

Karena mimpi bagian dari prasangka ...
Dan kita berprasangka baik pada Robb kita 
Tuhanpun seperti apa yang hamba sangkakan Pada Nya

Ya Robbana ...
Ini yang kami lahirkan ...
Lebih dari itu terhunjam di qolbu kami ...
Dalamnya... hanya jiwa ini yang tahu 
Dan Engkau Robbku ...
Azamku untuk gapai ridlo MU




Yogyakarta, 16 SEP 2021

Minggu, 05 September 2021

PUISI UJUNG PENA SAKSI SEMPURNA



*Ujung Pena saksi sempurna*


Tinta itu terus menetes terbakar semangat
Tergerak bergerak menari gemulai
Bercaknya sebagai jejak perjalanan
Mengukir rangkaian kata menjadi nyata

Tinta itu terus menetes
Pekatnya penghias mempesona
Susunan huruf menjadi kata penuh makna
Semakin indah tarian memandunya

Dikejar .... Lari
Dibiarkan ... Mati
Goreskan saja ...

Memahat Titian hati menyapa
Takdirnya untaian Kalam menjadi gempita
Kini anai-anai ikut menerangi
Percaya diri semangat menyinari
Kecil adanya besar bermakna


Emi Rusnawati
Yogyakarta,11 Juli 2021


#Pray#From#Home#
21.23 WIB

Selasa, 31 Agustus 2021

PUISI_LAWU KU MENCINTAIMU

<<< Lawu Ku Mencintaimu >>>

Indah gagah pemandangan ku pandang
Merasuk dalam sukma
Bergejolak gelora dalam dada
Puncak Lawu...
Kau tersenyum dengan rupamu
Kau terbentang tegar dengan wibawamu
Mengayom hati kala dilanda rindu

Lawu...
Bayangmu takkan pernah hilang
Kesanmu mempesona dalam angan
Kan ku dengar deru angin lembahmu dalam damai
Ingin ku selami telaga birumu
meneguk tetes-tetes air kasihmu 
Ingin ku berenang 
Dalam jeram sungaimu
Mengalir dalam arus liku hidupmu
Ingin ku terbang bersama kelelawar hitammu
Kala gulita selubungi jiwa
Kan ku gapai perlik lentera nun jauh bersamamu
Dalam asa, cita dan cinta

Lawu...
Alangkah indah wujudmu
Hingga kau miskin kata untuk ungkapkan itu
"Sungguh aku cinta padamu, Lawu"


#Karya Nurlaelah Sakdilah

#9 November 1998
#@SudutMasjidSayapKananPondokDarussalamGontor

Senin, 16 Agustus 2021

PUISI_INDONESIA NEGERI TERCINTA



Indonesia Negeri Tercinta

Kepalan tangan menjulang disertai lengkingan takbir ....
Allahu Akbar!
Allahu Akbar!
Allahu Akbar!
Terbayang saat detik detik
Negeri ini di Proklamirkan
 
Betapa damba itu lama dinantikan
Oleh para pejuang negeri ini
Para suhada yang pasti gagah dan berani
Hingga nyawa menjadi taruhannya
 
Kini para suhada telah terbaring di pusara ibu Pertiwi
Hari demi hari mereka menyaksikan
Gerak langkah para pemimpin negeri ini
Seperti ingin berteriak tapi apalah daya
Kubur memisahkannya
 
Wahai para pemimpin negeri
Duhai para generasi penerus
Ingat...ingat....
Negeri ini ada karena ada yang memberi
Karena ada yang memperjuangkannya
Karena ada yang rela darahnya tertumpah
 
Atas berkat Rahmat Allah
negeri ini mampu berdaulat
Atas kerja keras dan cerdas para suhada
Negeri ini merdeka
Atas kerelaan nyawa yang terambil
Demi berkibarnya sang saka merah putih
 
Indonesia tanah airku
Indonesia tumpah darahku
Indonesia negri tercintaku
Baldatun Thoyyibatun warobbun Ghofur itulah cita-cita kami
Maafkan jika kami sering lemah
Tapi kami ingin kuat bersama Indonesiaku....
 
Yogyakarta, 16 Agustus 2021
Stay at home, pukul  23.05 WIB











Kamis, 29 Juli 2021

PUISI_REKAHAN CAHAYA BAKDA SUBUH

Rekahan Cahaya Bakda Subuh

By Emi Rusnawati

Kau hadir menggelitik jiwa
Mencubit lembut membangunkan
Hati sunyi menepi mengadu

Tersayat jiwa jauh dari Mu
Membuat jiwa tak lagi membungkam

Panggilan-Mu menyayat jiwa fakir 
Jiwa yang mencoba menghadiriMu
Menghadiri undangan istimewa 
Membukakan jalan mencabut luka
Hilangkan sayatan sayatan yang dirasa

Hadirku menyambut kelembutan Mu
Mempertemukan ku dengan jiwa yang lain 
Jiwa yang diliputi sifatMu
Halus budi menjunjung berilmu 
Dalam setiap kalimat AsmaMu di sebut

Tempat itu ....
Adalah ruang Maya yang menjelma nyata
Antar ada dan tiada
Rekahan cahaya bakda subuh 
Ruang GILA penuh makna

Disanalah jiwa ini terikat
Hingga tak mampu melepas 
Bersembunyi bahkan menghilang
Biarlah jiwa ini tetap hadir
Membawa rindu penuh asa


Yogyakarta, 29 Juli 2021
di tulis pukul 0630' WIB
Stay at home


Jumat, 02 Juli 2021

PUISI SEMUA KAN KEMBALI


SEMUA KAN KEMBALI

Ketika jasad tak lagi bernyawa
Apa yang kau bisa
Tidur yang tak bangun kembali
Dibalut kain kafan yang akan menemani
Dalam kubur diatasnya sebuah batu nisan
Batu yang dibuat sebagai penanda
Akhir kembalinya tak semua sama
Yang sama hanyalah ruh yang terlepas dari jasadnya
Kembali menghadap yang empunya
Robby...
Waktu itu menjadi rahasiamu
Akupun tak pernah tahu
Kapan Kau cukupkan masaku. ...
Robby....
Aku bukanlah yang tebaik diantara makhluk Mu
Tapi aku hanyalah sesosok kebidupan
Yang penuh dengan harap ridlo Mu
Cermin besar yang terpajang
Setiap hari mengingatkanku...
Untuk apa sisa kehidupan ini...
Kuatkan aku Ya.... Robby...
Ampuni aku atas kekurangan dan kesalahan ini...
Biar kelak ku kembali
Ada senyum yang menyelimutiku
Ada jiwa yang terus berdo'a
Walau tidak harus di atas batu nisan sebagai penanda.
Ada jiwa-jiwa yang terus berkarya
Sambil bertasbih mengangungkan- Mu Ya Robb....
Aku yang hina
Tapi ingin mulia
Berikan akhirku dengan Hisnil khotimah.

Emi Rusnawati
#Yoyakarta, 15 April 2020#
Stay at home pukul 01.26' WIB#

Kamis, 01 Juli 2021

PUISI_SENANDUNG RINDU BUAT SANG AYAH





SENANDUNG RINDU BUAT SANG AYAH

Raga dan jiwa tak lagi ada

Namun nasehatnya terus terngiang ditelinga ...

Kini ia tlah tiada...

Pergi untuk selamanya....

Menemui Robbnya....

 

Robbi

tak mampu mata ini menatapnya terlalu lama...

Tak mampu raga ini meninggalkannya

terbaring menahan rasa sakit yang di deritanya

 

Saat itu di hari kelahiran mu wahai ayahanda

Kau nampak sumringah ketika mendapatkan kado dari anak dan cucumu

Kau nikmati hidangan yang kau inginkan saat itu dengan penuh rasa syukur

Walau saat itu sejatinya engkau menahan rasa sakit yg kau derita

 

Ikhlas ya nak ...

Iklas anakku ...

Sepertinya waktuku sudah dekat… ayahmu sudah lelah ...

Rasanya sudah ingin beristirahat

Terus kan perjuangan dakwahmu

Jangan pernah putus asa ...

Jadilah guru terbaik buat anak  muridmu

Ikhlaskan  ayahmu

Kalimat itu selalu terngiang dalam benak qolbuku

 

Hari demi hari aku memilih berada didekatmu ...

Tak lagi ku hiraukan tugas mengajar ku

Aku hanya ingin berada di dekatnya

Sampai pada akhirnya saatpun tiba ...

Ajal menjemputmu ....

 

Laa ilaaha illallah ...

Laa ilaaha illallah ...

Keringat dingin mengucur lekat di tubuhmu...

Tak lagi mampu berkata banyak...

Hanya pesan untuk menjaga bunda

 

Laa ilaaha illallah...

Laa ilaaha illallah ...

Itulah kalimat terakhirmu menuju Robbmu ....

 

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un

Engkau lahir untuk kembali

Semua kenangan bersamamu terlalu indah wahai ayahandaku

Do'a tulus buatmu ….

semoga Robbmu memberikan tempat terbaik

buat pejuang sepertimu ….

 

 

Yogyakarta, 1 Juli 2021

Emi Rusnawati

Jumat, 18 Juni 2021



Pantun teduh

Teruntuk sahabat yang berkenan membersamai.

 

Pegang pena coretkan tinta

Di atas kertas putih bermakna

Genggaman tak selalu sirna

Membekas sempurna penuh warna

 

Warna merah lambang keberanian

Namun hijau warna kedamaian

Sirna sudah segala kegalauan

Bersama ustdzah menjadi kawan

 

Hijau gunung nampak di depan

Warna Membiru dari kejauhan

Hujan badai tak lagi jadi halangan

Walau terasa dipenuhi rintangan

 

Bukak pesan di jaringan sosial

Pesan singkatnya penuh perhatian

Tak ada kata gagal dalam ujian

maknanya dalam di setiap perjalanan

 

Dinding langit menjulang tinggi

Bawahnya lautan mengelilingi

Datangnya izin menata hati

Balasannya menentramkan dasarnya qur'ani

 

 

Jogjakarta, 19 Juni 2021

Stay at home

Jaga dan tingkatkan Iman, imun dan beramal 

KESERUAN MENJELAJAHI KELOK 44 RANAH MINANG

 



KESERUAN MENJELAJAHI KELOK 44 RANAH MINANG

SUMATERA BARAT

Mengunjungi tempat-tempat wisata di tanah air, tidak akan pernah ada habis-habisnya. Siapapun yang hobinya suka melancong dan berpetualang, pasti akan selalu berusaha untuk memenuhi keinginannya, mengunjungi tempat-tempat yang diinginkan.

Seperti pengalaman perjalananku kali ini yang sangat luar biasa. Ketika aku melakukan perjalanan di Sumatera Barat bersama sahabat karibku. Dia adalah seorang Kepala Sekolah di SDN 44 Sungai Lareh Koto Tangah Kota Padang, Santi namanya. Tidak pernah terbayangkan olehku selama dua belas hari melancong di Sumatera Barat diantara kesibukan melaksanakan tugas. Hmm…kira-kira seperti apa ya pengalamannya? Untuk kisahku ini, aku jadi teringat akan sebuah pepatah “sekali dayung dua tiga pulau terlampaui” begitulah yang kualami.

Pagi itu seperti biasa, sesudah subuh kami langsung bersiap-siap untuk melakukan aktifitas. Kali ini sahabatku mengajak jalan-jalan, tetapi dia tidak menyebutkan hendak kemana kami berpergian. Yang penting kami keluar rumah. Ah, mungkin saja dia bermaksud memberi kejutan untuk mengunjungi beberapa tempat indah di Sumatera Barat, gumamku dalam hati. Tentunya tempat-tempat yang masih bisa kami jangkau dengan kondisi dan waktu yang ada. Malala begitulah istilah dalam  bahasa Minang, yang artinya adalah pergi jalan-jalan, menikmati indahnya alam Sumatera Barat.

Kelok 44 atau sering disebut sebagai “kelok ampek puluah ampek” menjadi tujuan perjalanan kami kali ini. Berdua menyusuri jalanan berliku, adalah sebuah pengalaman yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Perjalanan bersama seorang Kepala Sekolah dan juga seorang ibu yang masih sangat muda. Menjadi driver cantikku selama perjalanan di Ranah Minang.

Di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba mataku begitu terpesona disuguhi dengan hamparan luas di sebelah kanan jalan yang kami lalui, spontan saya bertanya “laut atau danaukah itu?”, “danau Maninjau Bun” begitu sahabatku menjawab. Ya Allah mataku sontak lebih terbelalak lagi, aku tidak menyangka bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri danau Maninjau yang terkenal itu. Tetapi karena agenda kami tidak ke danau itu, maka kami hanya menikmati keindahannya  sambil melanjutkan perjalanan menuju ke kelok ampek puluah ampek, seperti tujuan kami di awal perjalanan.

Sambil mengemudi sahabatku menunjukkan jari telunjuknya sambil mengakatakan “tujuan kita ada di ujung bukit sana Bun!”. Bukit yang menjulang tinggi sudah terlihat di depan mata kami.  Ya Rabb, lindungilah perjalanan kami ini, sesungguhnya tidak ada kekuatan kecuali kekuatan dari-Mu Sang Penguasa alam ini. Dan Engkaulah sebaik-baik Pelindung bagi kami.

Sahabatku terus memacu kendaraannya dengan begitu piawainya, menuju bukit tersebut. Karena pemandangan di kanan kiri kami terasa sangat indah rasanya mubazir jika hanya dilewatkan begitu saja. Maka kami sesekali berhenti dan turun dari mobil untuk berfoto  sekedar mengabadikan kenangan perjalanan kami.

Kelok satu kami lampaui, kelok dua, kelok tiga, kelok empat teruuus kami lalui   jalanan berliku dan menanjak itu,  bahkan tak jarang di kanan kirinya jurang nanterjal.  Sebisa mungkin aku berusaha mengabadikannya dengan kamera handphone yang kubawa. Masyaa Allah di depan mataku dari sisi jendela kiri tempat dudukku, lagi-lagi Allah memberiku anugerah dengan pemandangan yang sungguh tak mampu aku ungkapkan dengan kata-kata. Sehingga tidak sedikitpun mataku terpejam melewatkan semua keindahan yang aku saksikan di bumi Allah ini, sungguh kelok 44 membuatku terpesona tiada henti.

Rimbunan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Hamparan danau Maninjau dengan airnya yang biru tenang. Begitu pula dengan cantiknya gulungan awan menghias di atasnya membuatku tidak merasakan beratnya rintangan jalan yang ku tempuh.  Ya Allah, bisa melintas di setiap kelokan di kelok 44 saja sudah sangat luar biasa!. Apalagi ditambah dengan suguhan indahnya danau Maninjau. Danau yang cukup terkenal yang selama ini hanya aku tahu beritanya dari surat kabar dan media televisi.

Saat tiba di kelok ke-14, kami berhenti di rest area untuk menunaikan ibadah shalat dzuhur dan sekedar minum teh panas sambil memanjakan mata dengan menikmati danau Maninjau dari atas bukit. Jepret sana jepret sini, tidak ada yang terlewat olehku untuk kuabadikan melalui kamera handphone kesayanganku. Bahkan kadang aku rekam juga dalam bentuk video. Begitu aku cermati, hasil jepretan dari kameraku hampir saja tidak percaya, ternyata danau itu bak cermin yang memantulkan gambar yang tertangkap di depannya. “Lalu nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang hendak engkau dustakan”. Aku teringat akan firman Allah SWT dalam sebuah surat di dalam Al Qur’an.

Karena mengingat waktu, kami segera melanjutkan perjalanan menuju kelok yang terakhir dan juga yang tertinggi yaitu kelok 44. Disana terdapat lokasi wisata Puncak Lawang. Pemandangan seperti negeri di atas awan. Tak lama kami disana, hanya singgah sebentar saja. Namun yang terpenting adalah, kami telah berhasil menaklukkan setiap kelokan-kelokan jalan yang sangat tajam. Yang benar-benar sesuai dengan namanya, kelokan yang berjumlah empat puluh empat. Seiring berjalannya waktu akhirnya kami memutuskan untuk segera turun, pulang kembali ke rumah di perbatasan antara Kota Padang dan Padang Pariaman.

Disaat turun dan sampai kembali ke kelok pertama, tanpa sengaja aku membaca sebuah papan nama yang menunjuk ke arah kiri jalan menuju rumah budaya Buya Hamka. Melihat ini, kami kembali tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengunjunginya. Hingga pada akhirnya, setelah kami melewati jalan yang tak kalah rumit rintangan jalannya. Melewati kelokan yang curam dan jalan yang sempit sampai juga kami di rumah budaya tersebut. Yang lokasinya memang berada di seputaran danau Maninjau. Alhamdulillah, tiada henti aku mengucap rasa syukur.

Di rumah kelahiran ulama besar asal Minangkabau yang bernama lengkap Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau lebih dikenal dengan nama "Buya Hamka" . merupakan sosok seorang ulama sekaligus sastrawan, sejarawan dan juga tokoh politikus yang sangat terkenal tidak hanya di Indonesia tetapi juga dunia. Mengingatkanku akan dua karya beliau yang sangat terkenal yaitu buku “Tenggelamnya Kapal van der Wijck” dan “Di Bawah Lindungan Kabah”

Panjangnya perjalanan yang kami tempuh memang sangat melelahkan. Namun rasa lelah hilang terbayar dengan keindahan alam Minangkabau yang sangat indah dan juga penuh sejarah, tempat lahirnya tokoh-tokoh bangsa. Hal ini ditunjukkan saat kami tiba di rumah kelahiran Buya Hamka. Banyak hikmah yang bisa aku ambil dari sepanjang perjalananku dalam satu hari itu. Mulai dari Pariaman melewati Lubuk Basuang (Ibu kota Kabupaten Agam), hingga sampai di danau Maninjau yang menjadi pemandangan sepanjang perjalanan ke kelok 44 dan rumah kelahiran Buya Hamka.

Rumah bersejarah yang berada di tepian danau Maninjau tepatnya di kampung Muaro Pauh, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sungguh ini diluar rencana perjalanan yang aku bayangkan sebelumnya. Masyaa Allah, aku begitu bahagia Allah izinkan bisa singgah di tanah kelahiran Buya Hamka. Beliaulah salah satu motivator dalam hidupku. Melalui perjuangan dan ketegarannya, serta karya-karya sastranya yang dipenuhi dengan pesan-pesan luhur. Sangat pantas dijadikan pembelajaran dan contoh untuk kita semua sebagai generasi bangsa.

Tidak hanya itu, singgah dan berada dirumah kelahiran Buya Hamka juga memberi banyak inspirasi. Karena disini juga terdapat rumah baca, yang sengaja dibuat untuk perpustakaan dan tempat mengabadikan karya-karya beliau. Quote-quote beliau sengaja di tulis ulang dan dipajang di setiap sudut dinding ruangan.

Inilah salah satu alasanku, dengan penuh semangat terbang dari pulau Jawa rela menempuh perjalanan jauh ke Sumatera Barat. Sampai aku bergumam di dalam hati, bahwa suatu saat aku harus kembali ke Provinsi yang terkenal dengan masakan rendangnya ini. Makanan yang diakui sebagai makanan terlezat di dunia. Terbukti selama disini aku tidak hanya puas akan keindahan alamnya tetapi juga puas dengan wisata kulinernya. Sumatera Barat juga terkenal dengan kekayaan dan kelezatan masakannya yang kaya akan bumbu dan rempah-rempah hasil bumi Indonesia. Bagaimanapun caranya, kelak aku harus kembali lagi. Meski sebelumnya aku sudah pernah dua kali kesini, datang ke ranah Minang. Negeri asal lahirnya legenda rakyat si Malin Kundang.

 


Kenangan Perjalanan di akhir Tahun 2019

diedit dan ditulis ulang di 

Yogyakarta,  Januari 2021

Penulis : Emi Rusnawati, S.Pd.I., C.PS., C.MMI., C.PR

Asal : Yogyakarta Domisili Kota Yogyakarta